Transportasi
penyeberangan, terutama transportasi air di Indonesia memegang peranan penting
untuk menghubungkan pulau-pulau sebagai penyaluran penyaluran barang dan
memastikan roda perekonomian tetap berputar. Beberapa pengiriman barang melalui
jalur darat akan lebih efisien jika diganti dengan jalur laut, seperti daerah
pantura. Pengiriman melalui jalur laut akan mengurangi biaya perbaikan jalan
tahunan secara efisien, yang nilainya cukup besar. Selain itu, angkutan laut
tidak terpengaruh dengan biaya bahan bakar karena kapal kebanyakan menggunakan
solar non-subsidi.
Indonesia
telah menerapkan azas cabotage selama kurang lebih 7 tahun dan penerapan
tersebut telah membawa dampak positif terhadap sektor maritim. Pasalnya, azas
cabotage mewajibkan penggunaan bendera Indonesia bagi kapal niaga yang
beroperasi di lingkungan perairan Indonesia guna memperkuat armada perdagangan
nasional.
Namun,
layanan angkutan air ini tidak dimanfaatkan dengan merata di seluruh daerah di
Indonesia dikarenakan biaya operasional untuk arus logistik masih cukup tinggi,
sementara kemampuan finansial masyarakat belum memadai untuk memanfaatkan
transportasi penyeberangan ini. Oleh sebab itulah diperlukan analisa terhadap
struktur pembiayaan terhadap operasi penyeberangan kapal sehingga dapat
meminimalisasi biaya yang tidak penting dan melakukan penghematan di bagian
yang dirasa perlu.
Penghematan
yang dapat dilakukan antara lain :
1. Biaya Maintenance
Perbaikan dan perawatan adalah dua hal yang tidak
menghasilkan pendapatan secara langsung di sektor manapun, namun harus
dilakukan agar operasi bisa terus berjalan. Pada kapal, ada komponen bergerak
yang bekerja pada suhu dan tekanan tinggi seperti cincin piston dan nozzle, dan
biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan maupun penggantian komponen ini tidak
sedikit. Diperlukan maintenance berkala untuk mencegah terjadinya kerusakan
secara mendadak untuk meminimalisir biaya komponen spare part
2. Efisiensi Jarak Tempuh
Diperlukan perencanaan mengenai jalur penyeberangan
melalui laut, kecepatan kapal, volume bahan bakar, arah angin, lama operasi
engine, dan lain-lain untuk menghasilkan jarak tempuh yang efisien. Kapal yang
berlayar melawan arus angin maupun arus air akan membutuhkan lebih banyak
tenaga untuk menggerakannya, yang berarti memakan lebih banyak bahan bakar.
3. Efisiensi Badan Kapal
Desain kapal yang baik akan membantu kapal melaju
lebih cepat sehingga menghemat waktu dan penggunaan bahan bakar. Perlu
dilakukan analisis lebih lanjut mengenai desain badan kapal, propeller, serta
motor induk yang paling ekonomis agar dihasilkan biaya operasional yang
rasional






0 comments:
Post a Comment