Blogroll

.

Friday, 1 November 2013

Analisa Pengangkutan Batu Bara Menggunakan Transportasi Laut

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan pengangkutan sebuah komoditas dengan menggunakan transportasi laut. Diperlukan sebuah analisa yang logis untuk menentukan kapal seperti apa yang harus digunakan agar pengangkutan menjadi efektif dan efisien.

Sebagai contoh, kapal jenis apa yang tepat jika digunakan untuk mengangkut batu bara sebanyak satu juta ton per tahun dari satu titik ke titik lain yang berjarak 200 mil, dengan waktu tempuh 20 jam setiap pengantaran, dan draft maksimum kapal yang dapat digunakan adalah 9 meter?

Kapal besar maupun kapal kecil memiliki keuntungan masing-masing. Kapal besar dapat mengangkut lebih banyak barang, namun biaya maintenancenya lebih besar, kecepatannya lebih lamban, dan memerlukan waktu lebih lama untuk loading-unloading. Sementara kapal kecil lebih mudah perawatannya dan bongkar-muat barang lebih cepat, namun perlu banyak kapal untuk dapat mengangkut barang dengan jumlah yang sama dengan kapal besar.

Dalam kasus pengangkutan batu bara diatas, kita dapat memilih sebuah kapal yang sekiranya cukup. Pilihan saya jatuh kepada sebuah kapal batu bara berkapasitas 10000 ton, dengan draft hanya 7,48 meter. Kapal ini dapat berlayar dengan baik karena draft kapal lebih rendah daripada draft maksimumnya 9 meter.

Untuk mencapai jumlah satu juta ton per tahun, dengan menggunakan kapal berkapasitas 10000 ton, diperlukan 100 kali pengantaran. Menggunakan hanya satu kapal untuk melakukan pengantaran terlalu mustahil, karena jadwal pengantaran tidak pasti dan tidak ada kapal pengganti sekiranya terjadi breakdown kapal. Maka, untuk memenuhi satu juta ton batu bara tiap tahun, kurang lebih dibutuhkan 2 kapal sehingga pengantaran untuk setiap kapalnya dapat dibagi rata menjadi 50 pengantaran dalam satu tahunnya.


Dengan waktu pengantaran 20 jam sekali angkut, atau 40 jam perjalanan pulang pergi (dua hari), maka waktu tempuh yang dihabiskan oleh sebuah kapal adalah 200 hari dalam setahun. Perhitungan ini cukup feasible dengan mempertimbangkan ada hari-hari yang dilakukan untuk perbaikan dan perawatan kapal sehingga kapal dapat tetap mengangkut batu bara sesuai jadwal.

Transportasi Air Sebagai Alternatif Pengiriman Logistik

Transportasi penyeberangan, terutama transportasi air di Indonesia memegang peranan penting untuk menghubungkan pulau-pulau sebagai penyaluran penyaluran barang dan memastikan roda perekonomian tetap berputar. Beberapa pengiriman barang melalui jalur darat akan lebih efisien jika diganti dengan jalur laut, seperti daerah pantura. Pengiriman melalui jalur laut akan mengurangi biaya perbaikan jalan tahunan secara efisien, yang nilainya cukup besar. Selain itu, angkutan laut tidak terpengaruh dengan biaya bahan bakar karena kapal kebanyakan menggunakan solar non-subsidi.

Indonesia telah menerapkan azas cabotage selama kurang lebih 7 tahun dan penerapan tersebut telah membawa dampak positif terhadap sektor maritim. Pasalnya, azas cabotage mewajibkan penggunaan bendera Indonesia bagi kapal niaga yang beroperasi di lingkungan perairan Indonesia guna memperkuat armada perdagangan nasional.

Namun, layanan angkutan air ini tidak dimanfaatkan dengan merata di seluruh daerah di Indonesia dikarenakan biaya operasional untuk arus logistik masih cukup tinggi, sementara kemampuan finansial masyarakat belum memadai untuk memanfaatkan transportasi penyeberangan ini. Oleh sebab itulah diperlukan analisa terhadap struktur pembiayaan terhadap operasi penyeberangan kapal sehingga dapat meminimalisasi biaya yang tidak penting dan melakukan penghematan di bagian yang dirasa perlu.

Penghematan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Biaya Maintenance
Perbaikan dan perawatan adalah dua hal yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung di sektor manapun, namun harus dilakukan agar operasi bisa terus berjalan. Pada kapal, ada komponen bergerak yang bekerja pada suhu dan tekanan tinggi seperti cincin piston dan nozzle, dan biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan maupun penggantian komponen ini tidak sedikit. Diperlukan maintenance berkala untuk mencegah terjadinya kerusakan secara mendadak untuk meminimalisir biaya komponen spare part

2.      Efisiensi Jarak Tempuh
Diperlukan perencanaan mengenai jalur penyeberangan melalui laut, kecepatan kapal, volume bahan bakar, arah angin, lama operasi engine, dan lain-lain untuk menghasilkan jarak tempuh yang efisien. Kapal yang berlayar melawan arus angin maupun arus air akan membutuhkan lebih banyak tenaga untuk menggerakannya, yang berarti memakan lebih banyak bahan bakar.

3.      Efisiensi Badan Kapal
Desain kapal yang baik akan membantu kapal melaju lebih cepat sehingga menghemat waktu dan penggunaan bahan bakar. Perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai desain badan kapal, propeller, serta motor induk yang paling ekonomis agar dihasilkan biaya operasional yang rasional